Prosesi Acara 7 Bulanan di Pekalongan - Kain Batik Indonesia

Sabtu, 26 Desember 2020

Prosesi Acara 7 Bulanan di Pekalongan

Kainbatik.net - Banyak tradisi yang dilakukan saat hamil 7 bulan, salah satunya adalah Tingkeban atau Mitoni. Masyarakat Jawa melakukan tradisi ini sejak zaman dahulu kala, termasuk di Pekalongan. 

Tradisi Tingkeban biasa dilakukan ketika sang janin menginjak usia 7 bulan dalam kandungan ibu. Sementara saat usianya baru 4 bulan, tradisi yang dilakukan adalah Mapati. Selamatan itu sendiri dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Prosesi Acara 7 Bulanan di Pekalongan

Saat mengadakan tradisi selamatan atau selametan, sangat identik dengan aneka macam makanan yang berlimpah. Demikian pula dalam Tingkeban yang biasa dilakukan di Pekalongan, macam-macam buah harus disediakan dalam prosesi selamatan hamil 7 bulan

Tradisi selamatan ini identik dengan makanan yang beraneka ragam. Misalnya dalam tradisi tingkeban di Pekalongan, berbagai buah harus disediakan. 

Adapun macam-macam buah tersebut wajib keberadaannya sebagai bahan rujak, yang akan mendampingi ambeng atau nasi berkat, begitu orang Pekalongan biasa menyebut nasi besek tersebut

Apa saja buah yang harus ada? 

  • Delima
  • Belimbing
  • Salak
  • Bengkoang
  • Jambu biji
  • Pisang biji (gedhang keletuk muda dan tua)
  • Mangga kweni
  • Buah bawang
  • Tebu
  • Kelapa cengkir
  • Nanas
  • Pakel
  • Jeruk Bali
  • Kedondong
  • Buah kawi
  • Buah Parijotho,dan lain sebagainya
  • Bahan-bahan yang berupa aneka tumbuhan yang harus disiapkan adalah : 
  • Daun nangka yang masih segar
  • Daun bambu
  • Daun salam
  • Daun melinjo (godhong so), dan lain sebagainya

Bahan-bahan tersebut bisa didapatkan di lingkungan sekitar rumah ibu hamil, menjadi sebuah makna yang dalam mengenai betapa kita begitu membutuhkan alam.

Sangat miris ketika perkembangan zaman telah menggusur alam yang sangat berharga, contohnya di daerah Simbang Kulon Buaran Pekalongan, agak sulit untuk mencari daun bambu.

Adapun prosesi selamatan hamil 7 bulan bukan hanya sekadar tentang manusia dengan keselamatannya saja, namun juga tentang hubungannya dengan alam dan lainnya.

Seperti yang kita ketahui jika alam lengkap dengan semua tumbuhan yang ada di dalamnya adalah kosmos masyarakat Jawa, yang mana harus selalu dilindungi dan diselamatkan dari berbagai kerusakan.

Tujuannya sudah tentu supaya anak cucu dan cicit kita di ratusan tahun ke depan masih bisa menikmati lingkungan ini, tanah kelahiran mereka.

Hal ini sangat sesuai dengan filsafat kehidupan masyarakat Jawa, yaitu “Sangkan Paraning Dumadi”. Maknanya adalah dari mana, akan kemana dan akan jadi apa mereka pada masa yang akan datang. 

Tradisi Tingkeban yang biasa dilakukan di Pekalongan menjadi salah satu model yang apik, dari berbagai macam tradisi yang ada di Pulau Jawa. Misalnya di Kudus, komposisi buah yang akan ditemui berbeda dengan yang di Pekalongan, sekalipun sama-sama Tingkeban.

Jumlah buah yang akan digunakan untuk rujak di Kudus, tidak sebanyak dan sekomplit di Pekalongan. Rata-rata menggunakan buah yang memang mudah ditemukan saja, contohnya buah nanas, jeruk bali dan buah lainnya yang akan dikemas dalam plastik, lalu akan diikat atau ditusuk menggunakan jarum. 

Terdengar berbeda? Tak apa, karena memang begitulah keadaannya. Dengan berbagai perbedaan ini akhirnya membuat Indonesia menjadi kaya raya akan budaya.

Masyarakat Indonesia pun terbiasa hidup di tengah aneka budaya yang begitu indah dan penuh makna. Bahkan untuk di Pulau Jawa sekalipun, tradisi yang dilakukan mungkin sama namun dengan prosesi yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lingkungannya masing-masing. 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda